Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pasar saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) selama periode 2022–2024 menggunakan metode Value at Risk (VaR) serta membandingkan hasil perhitungan antara metode Historical Simulation (HS) dan Variance-Covariance (VC). Metode HS digunakan karena bersifat non-parametrik dan mampu menangkap distribusi return historis secara empiris tanpa asumsi distribusi normal, sedangkan metode VC digunakan sebagai pembanding dengan pendekatan parametrik berbasis asumsi normalitas data. Data yang digunakan berupa harga penutupan harian saham TLKM yang dianalisis untuk memperoleh return logaritmik harian dan dihitung nilai VaR pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95%, nilai VaR yang dihasilkan kedua metode relatif mendekati, yaitu sebesar -1,60% untuk HS dan -1,55% untuk VC, yang mengindikasikan bahwa distribusi return TLKM cenderung mendekati normal. Namun, pada tingkat kepercayaan 99%, metode HS menghasilkan nilai VaR yang lebih konservatif (-2,90%) dibandingkan metode VC (-2,70%), yang menunjukkan bahwa metode VC cenderung meremehkan risiko ekstrem. Hasil uji backtesting juga mengonfirmasi bahwa metode HS lebih andal dalam menangkap tail risk. Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan penggunaan metode Historical Simulation sebagai alat utama dalam pengukuran risiko pasar saham TLKM, terutama untuk manajemen risiko pada kondisi pasar yang tidak stabil.
References
- Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pasar saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) selama periode 2022–2024 menggunakan metode Value at Risk (VaR) serta membandingkan hasil perhitungan antara metode Historical Simulation (HS) dan Variance-Covariance (VC). Metode HS digunakan karena bersifat non-parametrik dan mampu menangkap distribusi return historis secara empiris tanpa asumsi distribusi normal, sedangkan metode VC digunakan sebagai pembanding dengan pendekatan parametrik berbasis asumsi normalitas data. Data yang digunakan berupa harga penutupan harian saham TLKM yang dianalisis untuk memperoleh return logaritmik harian dan dihitung nilai VaR pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95%, nilai VaR yang dihasilkan kedua metode relatif mendekati, yaitu sebesar -1,60% untuk HS dan -1,55% untuk VC, yang mengindikasikan bahwa distribusi return TLKM cenderung mendekati normal. Namun, pada tingkat kepercayaan 99%, metode HS menghasilkan nilai VaR yang lebih konservatif (-2,90%) dibandingkan metode VC (-2,70%), yang menunjukkan bahwa metode VC cenderung meremehkan risiko ekstrem. Hasil uji backtesting juga mengonfirmasi bahwa metode HS lebih andal dalam menangkap tail risk. Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan penggunaan metode Historical Simulation sebagai alat utama dalam pengukuran risiko pasar saham TLKM, terutama untuk manajemen risiko pada kondisi pasar yang tidak stabil.